BRIN: Pemulihan Pascabencana Tak Cukup Dibangun, Harus Dihidupkan Lagi oleh Warga

kompas2.com – Setelah bencana, yang paling cepat terlihat biasanya kerusakan.

Rumah roboh. Jalan putus. Fasilitas hilang.

Lalu datang fase berikutnya: membangun ulang.

Tapi di situ kadang ada yang terlewat. Atau mungkin bukan terlewat—lebih tepatnya, tidak cukup di perhatikan. Karena fokus sering berhenti di bangunan, bukan di orangnya.

BRIN mencoba menggeser sudut pandang itu. Tidak frontal, tapi cukup jelas. Mereka menekankan bahwa pemulihan tidak bisa hanya soal infrastruktur.

Harus ada komunitas di dalamnya. Harus.

Karena kalau di pikir-pikir, siapa yang paling lama tinggal di sana? Bukan tim bantuan. Bukan peneliti. Tapi warga itu sendiri. Mereka yang tahu bagaimana kondisi sebelum bencana, dan bagaimana rasanya setelah semuanya berubah.

Pengetahuan itu tidak selalu tertulis. Tidak selalu bisa di ukur.

Tapi nyata.

BRIN melihat ini sebagai kekuatan. Bukan pelengkap, tapi justru fondasi yang sering tidak dimanfaatkan maksimal. Ketika komunitas di libatkan, proses pemulihan bisa lebih cepat—bukan karena lebih banyak tenaga, tapi karena arahnya lebih tepat.

Lebih kena.

Ada hal-hal kecil yang sering tidak tertangkap kalau hanya di lihat dari luar. Misalnya, mana yang harus di prioritaskan dulu. Atau bagaimana pola ekonomi warga berubah setelah bencana. Bahkan soal relasi sosial—yang kadang ikut retak tanpa terlihat jelas.

Hal-hal seperti ini tidak bisa di selesaikan dengan pendekatan seragam.

Dan mungkin di situ letak masalahnya selama ini.

Pemulihan sering di buat terlalu “rapi”. Terlalu sistematis. Padahal kondisi di lapangan jarang benar-benar rapi. Ada dinamika, ada penyesuaian, ada keputusan yang harus di ambil cepat tanpa menunggu prosedur panjang.

Makanya, pendekatan berbasis komunitas jadi penting.

Bukan cuma di libatkan di akhir, tapi sejak awal. Dari perencanaan, bukan sekadar pelaksanaan. Supaya solusi yang muncul tidak terasa asing bagi mereka yang menjalaninya.

Di sisi lain, BRIN juga mendorong kolaborasi yang lebih luas. Pemerintah, akademisi, masyarakat—tiga elemen ini sebenarnya sering di sebut bersama, tapi praktiknya tidak selalu berjalan seiring.

Kadang terlalu teoritis. Kadang terlalu administratif.

Yang di harapkan sekarang: lebih nyambung.

Berbasis riset, iya. Tapi tetap fleksibel. Karena setiap wilayah punya cerita sendiri. Tidak bisa di paksakan satu pola untuk semua.

Ada juga pembahasan soal jangka panjang. Ini yang sering muncul belakangan.

Bukan hanya pulih, tapi siap kalau hal serupa terjadi lagi. Komunitas perlu di bekali. Edukasi, pelatihan, hal-hal praktis yang mungkin tidak terasa penting sekarang, tapi krusial saat situasi darurat datang.

Dan biasanya, itu datang tanpa banyak tanda.

Jadi kalau di tarik mundur, pesan BRIN sebenarnya cukup sederhana—meski implementasinya tidak sesederhana itu.

Pemulihan bukan cuma soal membangun kembali apa yang hilang.

Tapi bagaimana membuat orang-orang di dalamnya bisa kembali hidup… dan bertahan, kalau suatu hari harus menghadapi hal yang sama lagi.