Bank Rakyat Indonesia (BRI) Gelontorkan KUR Rp31,42 Triliun: Suntik Adrenalin Baru ke Denyut UMKM

kompas2 – Satu angka meluncur dari bilik direksi BRI—31,42 triliun rupiah. Bukan kas bulanan, melainkan total Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sudah di lepas ke ribuan gerai bakso, bengkel, petani cabai, hingga perajin sandal desa sejak awal tahun.

Kenapa ramai? Karena di tengah cerita perlambatan ekonomi, dana segar semacam ini ibarat oksigen. BRI mengeksekusinya bertahap, memetakan dulu sektor mana yang paling butuh—pertanian, perikanan, manufaktur rumahan—lalu menurunkannya lewat cabang-cabang sampai pelosok.

Skemanya bukan hanya transfer uang. Bank menyiapkan tim pendamping: ajari pencatatan sederhana, cara menangani arus kas, bahkan trik promosi daring. “Kalau modal digelontor tanpa literasi, uang bisa menguap,” kata seorang manajer mikro di sela pelatihan.

Dampak langsung mulai terasa: mesin penggiling padi di Sragen kembali berdengung tiga shift, produsen keripik tempe di Malang menambah dua karyawan, koperasi nelayan di Bone memperbarui jaring. Kecil di kertas, besar di lapangan kerja.

Tantangan tentu ada—dari kredit macet sampai fluktuasi harga komoditas—tetapi KUR di anggap tetap senjata utama menjaga napas UMKM, sektor yang menyumbang lebih dari 60 % PDB nasional. BRI, di sisi lain, memperkuat portofolio pembiayaan produktif sambil menjaga rasio risiko.

Apakah Rp31 triliun cukup? Pemerintah dan bank setuju: angka itu langkah awal. Target tahun ini masih lebih tinggi. Selama warung kopi, petak sawah, dan gerobak angkringan terus berdenyut, dana KUR akan mencari jalannya—menyusup ke celah lapangan usaha yang belum tersentuh modal konvensional.