kompas2.com – Suasana di lokasi parade itu sudah ramai sejak sore. Lampion merah bergantungan, suara tambur bersahutan, dan aroma makanan dari deretan stan bercampur di udara. Pemerintah tahun ini kembali menggelar Parade Imlek—bukan sekadar seremoni tahunan, tapi di klaim sebagai ruang bersama. Ruang untuk merayakan, dan juga, seperti yang mereka tekankan, untuk merawat toleransi.
Barongsai jadi pusat perhatian. Gerakannya lincah, kadang meloncat tinggi, kadang menunduk di antara penonton yang berdesakan ingin mengabadikan momen. Di sisi lain, pertunjukan seni tradisional lain ikut tampil. Tidak semuanya bernafaskan Tionghoa; ada pula elemen budaya lokal yang di sisipkan. Seolah ingin menegaskan pesan bahwa perayaan ini bukan milik satu kelompok saja.
Seorang perwakilan pemerintah yang hadir di panggung utama mengatakan bahwa Imlek hari ini tidak lagi berdiri sebagai perayaan komunitas tertentu semata. Ia menyebutnya sebagai ruang interaksi lintas komunitas. “Keberagaman itu kekuatan,” begitu kira-kira pesannya. Pernyataan yang terdengar familiar, mungkin, tapi malam itu terasa konkret—karena penontonnya memang beragam. Ada keluarga muda, pelajar, lansia, bahkan wisatawan yang penasaran.
Imlek, dalam beberapa tahun terakhir, memang telah menjadi bagian dari kalender nasional yang di rayakan terbuka di banyak daerah. Tidak lagi tersekat. Parade seperti ini memperlihatkan perubahan itu secara kasat mata. Orang-orang datang bukan hanya untuk menonton, tetapi untuk ikut merasakan suasana. Dan suasana itu—ramai, hangat, riuh—menjadi simbol yang ingin di tunjukkan pemerintah.
Namun cerita parade ini tidak berhenti pada soal simbol dan kebersamaan. Di sepanjang area acara, deretan stan UMKM berjejer rapi, meski antreannya tidak selalu rapi. Kuliner khas, pernak-pernik Imlek, kerajinan tangan, hingga produk kreatif lain di jajakan. Para pelaku usaha kecil tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.
Di sinilah sisi lain dari parade ini terlihat jelas. Pemerintah menyebutnya sebagai upaya mendorong ekonomi kreatif. Bagi pelaku UMKM, kesempatan semacam ini berarti tambahan pemasukan. Bahkan mungkin promosi jangka panjang. Seorang penjual makanan ringan mengaku omzetnya meningkat di banding hari biasa. “Kalau acara begini, pembeli lebih banyak,” ujarnya singkat sambil tetap melayani pesanan.
Pemerintah menilai kegiatan seperti Parade Imlek bisa menjadi dua hal sekaligus: panggung budaya dan mesin penggerak ekonomi lokal. Ide yang terdengar ambisius, memang. Tapi setidaknya, selama beberapa jam itu, roda ekonomi kecil terlihat berputar. Uang berpindah tangan. Senyum pedagang mengembang. Pengunjung pun pulang membawa kantong belanja.
Lebih jauh lagi, pemerintah berharap dampaknya tidak berhenti ketika lampion di padamkan dan panggung di bongkar. Mereka ingin nilai toleransi yang di gaungkan tetap hidup, dan geliat ekonomi yang tercipta tidak hanya sesaat. Sebuah harapan yang besar, tentu saja.
Imlek sendiri telah melewati perjalanan panjang di negeri ini—dari perayaan yang dulu sempat terbatasi, kini menjadi agenda publik yang di rayakan terbuka. Parade ini menjadi penanda perjalanan itu. Riuh, penuh warna, dan—setidaknya untuk malam itu—membuat orang-orang berdiri berdampingan tanpa banyak sekat.
