kompas2 – Lima hari sebelum Lebaran, pergerakan kendaraan dari Jakarta mulai terasa berbeda. Bukan sekadar ramai—tapi melonjak. Di Jalan Tol Layang Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ), angkanya bahkan tembus kenaikan 101 persen dibanding kondisi normal.
Seratus satu persen. Artinya dua kali lipat lebih padat dari hari biasa.
Tol MBZ memang sejak awal di bangun untuk membantu memecah beban lalu lintas di ruas bawah Jakarta–Cikampek. Jalur layang ini sering jadi opsi bagi pengendara yang ingin menghindari kepadatan di bawah. Dan menjelang mudik, pilihan itu tampaknya makin populer.
Data menunjukkan lonjakan signifikan sudah terjadi di H-5. Itu artinya, sebagian pemudik memilih berangkat lebih awal. Mungkin menghindari puncak arus. Mungkin juga menyesuaikan cuti. Yang jelas, gelombang kendaraan sudah bergerak.
Arah timur masih jadi primadona. Jalur menuju Trans Jawa menjadi magnet utama. Setiap tahun polanya hampir sama—arus keluar Jakarta menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sekitarnya meningkat tajam menjelang Idul Fitri.
Tol MBZ pun ikut menanggung beban lonjakan itu.
Pihak pengelola bersama kepolisian sudah bersiap. Pengaturan lalu lintas di lakukan. Titik-titik rawan di pantau. Jika di perlukan, rekayasa arus bisa di terapkan untuk menjaga kelancaran. Setidaknya itu rencananya.
Namun di lapangan, kepadatan tetap tak terhindarkan di jam-jam tertentu. Volume kendaraan yang melonjak drastis tentu membawa konsekuensi.
Pengguna jalan di imbau untuk tidak lengah. Pastikan kendaraan dalam kondisi prima. Jaga jarak aman. Jangan memaksakan diri jika lelah. Hal-hal yang terdengar sederhana, tapi sering di abaikan ketika euforia mudik sudah di depan mata.
Lonjakan 101 persen di Tol MBZ pada H-5 ini bisa jadi baru permulaan. Puncak arus mudik biasanya datang lebih dekat ke hari-H. Jika tren terus naik, bukan tidak mungkin angka pergerakan kendaraan akan kembali mencatat rekor.
Yang jelas, Jakarta perlahan mulai “di tinggalkan”. Dan Tol MBZ, sekali lagi, menjadi salah satu saksi utama perpindahan besar-besaran itu.
