kompas2 – Di beberapa tempat, jejak bencana masih terlihat. Belum benar-benar hilang. Ada rumah yang masih setengah diperbaiki, ada barang yang belum kembali seperti semula.
Tapi Lebaran tetap datang.
Dan menariknya, di situ muncul kebiasaan yang tetap di pertahankan—meski kondisi belum ideal. Orang-orang masih berusaha beli baju baru. Tidak semua, memang. Tapi cukup banyak untuk terlihat.
Kalau di lihat sekilas, mungkin terasa biasa saja. Rutinitas tahunan. Tapi kalau di tarik sedikit ke belakang—ke situasi yang mereka lewati sebelumnya—itu jadi cerita yang berbeda.
Ada usaha di situ.
Bukan cuma soal pakaian.
Beberapa penyintas memilih tetap mencari baju baru menjelang Idul Fitri. Kadang beli sendiri, kadang dari bantuan. Tidak selalu sesuai selera, bahkan sering seadanya. Tapi bukan itu poin utamanya.
Yang di cari lebih ke rasa “normal”.
Seolah ingin bilang ke diri sendiri: Lebaran tetap ada, hidup tetap jalan.
Orang-orang yang terlibat dalam pendampingan korban bencana juga melihat hal yang sama. Aktivitas seperti ini—yang kelihatannya kecil—justru punya efek psikologis. Ketika seseorang kembali melakukan kebiasaan lama, ada rasa yang ikut pulih, walau sedikit.
Pelan, tapi ada.
Di beberapa lokasi, bantuan pakaian juga mulai di bagikan. Tidak besar-besaran, tapi cukup terasa dampaknya. Setidaknya, ada yang bisa di pakai saat hari raya. Dan itu penting, lebih penting dari yang terlihat.
Karena Lebaran bukan cuma soal kumpul atau makan bersama.
Ada simbol di dalamnya. Termasuk soal baju baru.
Meski kondisi belum sepenuhnya pulih, sebagian penyintas tetap mencoba merayakan. Dengan cara mereka sendiri. Sederhana, kadang sangat sederhana.
Ada yang tetap berkumpul, walau tempatnya bukan rumah lama. Ada yang pakai baju baru, walau bukan pilihan pertama. Tapi tetap di pakai. Tetap di jalani.
Dan mungkin, di situlah letaknya.
Lebaran bagi mereka bukan sekadar momen tahunan. Lebih seperti titik untuk mulai lagi—meski dari kondisi yang belum sepenuhnya utuh.
