Atur Ulang Jam Sekolah Selama Ramadhan, Pemerintah Minta Sekolah Lebih Luwes

kompas2.com – Ramadhan datang. Sekolah tak libur, tapi ritmenya berubah. Pemerintah akhirnya merilis kebijakan baru: belajar tetap jalan, tapi dengan penyesuaian.

Bukan tanpa alasan. Anak-anak puasa. Guru juga. Energi jelas tak sama seperti hari-hari biasa. Maka, satuan pendidikan di beri ruang. Diberi keleluasaan mengatur ulang jam belajar. Format kegiatan pun boleh di utak-atik.

Yang penting, kata pemerintah, esensinya tak hilang. Materi pokok tetap harus tersampaikan. Tapi caranya? Silakan di sesuaikan. Lebih ringan, lebih fleksibel, tapi tetap punya bobot.

“Penyesuaian ini bukan untuk mengurangi beban belajar, tapi menyesuaikan kapasitas anak selama Ramadhan,” begitu kira-kira pesannya.

Artinya, ini bukan cuti terselubung. Bukan juga masa-masa kosong tanpa arah. Pemerintah ingin proses belajar tetap hidup. Bahkan, Ramadhan di lihat sebagai momentum. Untuk apa? Penguatan karakter, pembiasaan nilai-nilai. Disiplin, empati, spiritualitas—semuanya bisa masuk lewat aktivitas di sekolah. Tentu, yang kontekstual. Yang sesuai kultur lokal.

Ada ruang untuk kegiatan keagamaan. Ada pula celah untuk kegiatan sosial. Tapi tidak seragam. Daerah di beri kewenangan menyusun teknisnya. Asal jangan melenceng dari arah kebijakan pusat.

Dalam surat edaran yang di kirim ke pemda dan sekolah-sekolah, garis besar sudah di tetapkan. Tapi implementasi? Tergantung masing-masing wilayah.

Intinya sederhana: belajar jangan mati, tapi jangan juga memaksa. Ramadhan harus jadi masa yang tetap produktif, tapi juga ramah bagi yang berpuasa. Pendidikan tetap jalan. Ibadah tak terganggu. Seimbang.