Indosat Gandeng Tanla, Lawan Scam Pakai Otak Mesin

kompas2.com – Penipuan digital makin gila. SMS jebakan, telepon misterius, link palsu yang nyamar jadi “diskon eksklusif”—semua makin sering mampir ke ponsel orang. Indosat Ooredoo Hutchison tahu itu. Dan mereka nggak mau cuma diam.

Baru-baru ini, Indosat kerja bareng Tanla Platforms Limited. Nama Tanla mungkin nggak familiar di telinga umum, tapi di dunia teknologi komunikasi, mereka salah satu yang cukup di segani. Yang mereka bikin? Fitur anti-scam yang bisa mikir sendiri. Serius. Ini bukan sistem biasa. Ini platform bernama Wisely AI, dan ya, sesuai namanya—ia harusnya bisa “lebih bijak” mengenali mana pesan biasa dan mana jebakan Batman.

Selama enam bulan pertama di pasang, sistem ini udah “melahap” lebih dari 11 miliar komunikasi yang masuk ke jaringan. Dan dari situ, sekitar 2 miliar di curigai sebagai spam atau upaya penipuan. Bayangin: dua miliar! Itu angka yang gila kalau di bayangin satu per satu.

Apa yang bikin beda? Real-time. Sistem ini bisa bereaksi seketika. Bukan cuma terhadap SMS, tapi juga suara, VoIP, bahkan pola komunikasi mencurigakan yang belum tentu kita sadari. Jadi sebelum kamu sempat baca atau jawab pesan tipu-tipu itu, sistem udah tanggap duluan.

Data internal Indosat nyebut, ada sekitar 100 juta pengguna yang terlindungi lewat sistem ini. Ratusan juta potensi kerugian finansial bisa di cegah. Dan lebih penting dari itu: ketenangan.

Buat Indosat, kerja sama ini bukan cuma soal pamer fitur baru. Ini bagian dari upaya lebih luas buat bikin ekosistem digital di Indonesia nggak jadi rimba liar. Apalagi makin banyak orang, dari anak muda sampai orang tua, yang makin akrab dengan transaksi digital tapi belum tentu siap menghadapi risiko sibernya.

Kenyataannya, scam sekarang nggak cuma datang dari nomor asing. Ada yang bahasanya santun, ada yang pakai gaya customer service, bahkan ada yang menyamar jadi institusi resmi. Dan makin licin mereka, makin penting sistem yang bisa berpikir cepat.

Indosat dan Tanla sadar, ini bukan perang sehari dua hari. Tapi mereka juga tahu: kalau nunggu korban terus jatuh duluan, itu telat.

Maka dari itu, sistem ini akan terus di kembangkan. Lebih responsif, lebih akurat, lebih gesit. Karena di dunia yang makin digital, perlindungan harus ikut naik kelas. Bukan sekadar proteksi pasif, tapi yang bisa mendeteksi—dan bereaksi—bahkan sebelum pengguna sadar ada ancaman.

Singkatnya: mereka lawan penipuan digital pakai kecerdasan buatan. Tapi tujuannya satu: lindungi yang paling manusia.