Kebumen, sore itu—Jumat, 6 Februari 2026—sunyi seperti biasa. Tapi ketenangan di SDN Clapar, Karanggayam, mendadak jungkir balik.
Sebuah mobil putih berstiker mencolok: MBG – Makan Bergizi Gratis, melaju dari arah Wonotirto. Tapi laju itu, kata warga, bukan sekadar cepat. Ugal-ugalan. Tak terkendali. Dan benar saja—mobil itu menghantam gerbang sekolah. Keras. Ban depan pecah. Kendaraan oleng, menabrak talud. Hancur.
Untungnya, sekolah sedang kosong. Tak ada siswa. Tak ada guru. Hanya gerbang yang remuk, dan sejurus kemudian… suasana berubah jadi tegang.
Dari balik kemudi, seorang pria turun. Warga mendekat, hendak menolong. Tapi bukan pertolongan yang diterima—melainkan amukan.
Ajiz Setyo Wihantoro, 39 tahun, warga Karangsambung, mendadak berubah liar. Emosinya meledak-ledak. Warga yang niatnya baik justru kena pukul. Sekitar 15 orang—luka ringan. Di pukul. Di dorong. Di teriaki.
Seorang bapak tua sempat terjatuh. Seorang pemuda lainnya sempat terpeleset saat mencoba melerai. Kekacauan berlangsung cepat, dan mencekam.
Petugas Polsek Karanggayam datang tak lama kemudian. Ajiz di amankan. Di bawa ke kantor polisi. Masih dalam keadaan emosional, tapi tak lagi melawan.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Polisi menduga, Ajiz dalam kondisi psikis yang tak stabil saat insiden. Belum jelas—apakah karena tekanan kerja, masalah pribadi, atau hal lain. Penyelidikan masih berjalan. Saksi-saksi dimintai keterangan. Bukti-bukti di kumpulkan.
Yang pasti, mobil MBG—yang mestinya jadi simbol bantuan dan kebaikan—hari itu berubah jadi sumber keributan. Ironis.
Warga berharap ada kejelasan. Mereka juga ingin tahu: kenapa bisa terjadi? Kenapa seseorang bisa berubah seagresif itu?
Dan mungkin yang paling penting—bagaimana mencegah hal seperti ini terjadi lagi?
Karena hari itu, bukan hanya gerbang sekolah yang rusak. Tapi juga rasa aman warga yang mendadak runtuh.
