kompas2.com – Ada yang menarik minggu ini. Bukan dari gelanggang politik nasional. Tapi dari Riyadh, Arab Saudi. Di sana, sebuah universitas bersiap kasih gelar doktor kehormatan ke Megawati Soekarnoputri.
Iya, Megawati. Presiden ke-5 RI. Perempuan pertama yang memimpin negeri ini. Anak Bung Karno, sekaligus sosok politik yang—suka tidak suka—masih punya tempat dalam struktur kekuasaan hari ini.
Buat sebagian orang, ini kabar biasa. Tapi kalau mau di tarik pelan-pelan, sebenarnya cukup sarat makna. Karena bukan tiap hari kita dengar Saudi—yang konservatif, yang sangat hati-hati soal simbol—memberi penghargaan ke politisi perempuan dari luar, apalagi dari Asia Tenggara.
Jadi apa istimewanya?
Kampus yang kasih gelar bilang, ini bentuk penghormatan atas kontribusi Megawati di bidang demokrasi, politik, dan hubungan antarnegara. Khususnya soal bagaimana dia memperkuat koneksi Indonesia dengan Timur Tengah. Oke. Fair.
Tapi di luar alasan formal itu, ini seperti pesan halus: bahwa apa yang pernah di kerjakan Megawati—baik sebagai presiden maupun ketua partai—masih dianggap relevan. Dan lebih dari itu, masih di kenali. Di luar negeri. Di ruang akademik. Di kawasan yang biasanya adem-ayem urusan simbol politik luar.
Acara penganugerahan belum di gelar. Tapi konfirmasi sudah ada. Megawati akan datang langsung ke Riyadh. Upacara bakal berlangsung resmi, tentu saja. Formal. Tapi yang menarik, ini mungkin akan jadi satu dari sedikit momen internasional yang menyoroti Megawati di panggung luar negeri pasca-masa jabatannya selesai.
Apakah ini bentuk pengakuan internasional? Mungkin iya. Tapi juga bisa dilihat sebagai bagian dari diplomasi lembut. Arab Saudi sedang membuka diri. Megawati jadi salah satu wajah yang mereka undang.
Di sisi lain, buat para pendukungnya di Tanah Air, ini jelas jadi momen bangga. Tentu, siapa pun yang dekat dengan politik tahu: gestur macam ini bisa di goreng jadi amunisi. Tapi juga wajar. Karena simbol seperti ini memang di taruh di panggung agar di lihat, di baca, di tafsirkan.
Sampai detik ini, belum banyak informasi teknis soal acaranya. Tapi satu yang pasti, ini bukan sekadar gelar. Ini bagian dari lanskap yang lebih luas—diplomasi, sejarah, dan citra. Di antara semua itu, nama Megawati muncul lagi. Kali ini, bukan di podium kampanye. Tapi di aula akademik Riyadh.
