Adi Sutarwijono Akan Dimakamkan di Keputih, Surabaya Kehilangan Suara Kritis

kompas2.com — Jenazah Adi Sutarwijono, Ketua DPRD Surabaya, akan di makamkan di TPU Keputih. Kabar ini di sampaikan keluarga pada Senin malam. Sederhana, tanpa banyak seremoni. Tapi jelas, ini bukan kabar biasa.

Cak Adi — begitu biasa ia disapa — bukan nama asing di ruang-ruang politik Surabaya. Selama menjabat sebagai ketua dewan, suaranya kerap muncul lantang di forum-forum rapat, media, hingga lorong-lorong aspirasi warga. Blak-blakan, tapi juga bisa di ajak kompromi. Tegas, tapi tak kehilangan sisi manusiawi.

Pemkot Surabaya menyampaikan duka. Singkat, tapi terasa tulus. Mereka menyebut almarhum sebagai “pengabdi demokrasi lokal”. Beberapa pejabat daerah dan anggota dewan akan hadir di pemakaman. Bukan hanya formalitas, tapi bentuk penghormatan — karena mereka tahu, Adi bukan sosok yang bisa di lupakan begitu saja.

Pagi tadi, persiapan di TPU Keputih sudah mulai tampak. Beberapa warga dan petugas terlihat membantu pihak keluarga. Suasana masih tertahan. Belum ramai. Tapi bisa di pastikan, pelayat akan berdatangan, dari berbagai kalangan.

Tidak banyak keterangan soal teknis pemakaman. Keluarga lebih banyak diam, mencoba tenang di tengah duka. Yang jelas, setelah penghormatan terakhir di rumah duka, jenazah akan di bawa ke Keputih — dengan atau tanpa prosesi besar.

Kematian Adi Sutarwijono bukan sekadar kehilangan personal. Ini kehilangan politisi yang tahu cara berdiri di tengah. Tak selalu populer, tapi nyaring. Kadang keras, tapi selalu punya alasan.

Surabaya kehilangan satu suara penting. Tapi mungkin, semangatnya tak benar-benar hilang. Ia tinggal dalam ingatan, dalam catatan rapat, dalam kebijakan yang sempat ia dorong, dalam sikap keras kepala yang—anehnya—sering di butuhkan di panggung politik lokal.