kompas2.com — Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, blak-blakan soal pengalamannya sebagai komisaris utama. Salah satu yang menarik: urusan golf.
Dulu, dia nggak suka. Olahraga itu di anggapnya cuma ajang nongkrong para pejabat. “Bukan saya banget,” katanya dalam satu kesempatan.
Tapi situasinya berubah. Di posisi barunya, Ahok mulai sadar. Banyak interaksi penting justru terjadi di luar ruang rapat. Termasuk di lapangan golf.
Akhirnya ia belajar. Bukan karena ikut-ikutan. Tapi karena ingin memahami konteks sosial dan komunikasi informal yang ternyata tak bisa di hindari di level jabatan tertentu.
“Kalau kita terus berada di luar ekosistem itu, kita nggak akan paham dinamika yang terjadi,” ujar Ahok.
Menurutnya, ini bukan soal ikut budaya. Tapi membaca ruang. Dan tahu kapan harus menyesuaikan diri tanpa meninggalkan prinsip.
Ia tetap menggarisbawahi bahwa peran utama sebagai komisaris adalah soal pengawasan. Golf, atau hal-hal serupa, hanya alat bantu komunikasi. Bukan tujuan.
Cerita ini di sampaikannya sebagai refleksi. Bahwa menjadi komisaris utama bukan cuma soal strategi atau keputusan bisnis, tapi juga soal jejaring. Dan cara membacanya.
Perubahan kebiasaan, kata Ahok, adalah bagian dari proses. Selama tidak menggeser arah komitmen utama, itu bisa jadi bagian dari adaptasi profesional.
