Guru di Jambi Tampar Siswa, Sebut Pernah Jadi Korban Perundungan

kompas2.com — Seorang guru di salah satu sekolah negeri Jambi akhirnya bicara. Ia akui menampar siswa. Alasannya? Karena emosi. Tapi, katanya, bukan tanpa latar belakang.

Guru itu mengaku, dulu pernah di rundung. Bertahun-tahun. Bukan sehari dua. Tapi ia bilang, itu bukan pembenaran. “Beda konteks,” katanya dalam klarifikasi internal yang digelar pihak sekolah.

Kasus ini mencuat usai video atau kabar soal tamparan itu ramai di media sosial. Sekolah langsung kumpulkan info. Termasuk dari siswa, guru lain, dan saksi di lokasi.

Situasi di kelas saat kejadian? Emosional. Guru itu bilang dia lepas kontrol. Ia mengaku salah. Dan menyesal. Tapi juga minta dipahami—ada latar luka lama yang belum selesai.

Pihak sekolah sudah lapor ke Dinas Pendidikan. Koordinasi masih berlangsung. Mereka bilang, kasus ini di tangani serius. Fokusnya: keamanan siswa. Tapi juga perlindungan bagi guru, supaya peristiwa begini tidak meledak tanpa kendali.

Orang tua siswa minta transparansi. Mereka mau ada kejelasan. Nggak mau kasus ini lenyap tanpa ujung. Mereka juga ingin ada pembinaan, bukan cuma hukuman.

Dinas Pendidikan menyebut akan bertindak sesuai aturan. Penanganan akan mempertimbangkan perlindungan anak dan kode etik guru. “Yang penting, jangan ada lagi kekerasan di ruang belajar,” ujar salah satu pejabat dinas, siang tadi.