kompas2 – Realme kembali masuk ke gelanggang persaingan ponsel menengah dengan membawa sesuatu yang—setidaknya di atas kertas—cukup menggoda: Realme 16, perangkat dengan bodi ringkas tapi baterai yang ukurannya seperti bercanda, 7000 mAh. Angka yang biasanya di temui di ponsel bongsor, bukan di perangkat yang katanya di rancang tetap nyaman di genggam.
Di konferensi peluncuran, pihak Realme menekankan satu hal berulang-ulang: daya tahan. Mereka ingin perangkat ini di pakai sepanjang hari tanpa drama mencari colokan. Bahkan mungkin dua hari, kalau pengguna tidak terlalu berat membuka aplikasi sana-sini. Ini semacam respons terhadap keluhan umum pengguna ponsel menengah yang sering mengorbankan baterai demi desain tipis.
Yang menarik, Realme 16 tidak tampil “gemuk” meski kapasitas baterainya besar. Bodi dan bobotnya masih masuk kategori ramah tangan—dan ini jadi poin jualan utama. Realme seolah mencoba membuktikan bahwa ponsel baterai besar tidak harus terasa seperti membawa balok kecil di kantong.
Soal performa, Realme memasukkan janji-janji standar: multitasking lancar, konsumsi konten tanpa hambatan, dan sejumlah fitur yang mereka sebut “kebutuhan pengguna modern”. Belum tentu revolusioner, tapi cukup untuk menjadikannya pemain kompetitif di pasar yang sudah penuh sesak.
Dengan hadirnya Realme 16, lini produk Realme di Indonesia semakin panjang. Lini yang menyasar pengguna yang ingin ponsel kuat, bertahan lama, tapi tidak bikin pergelangan tangan protes saat di pakai lama.
Apakah Realme 16 akan mencuri perhatian? Itu urusan pasar. Tapi jelas Realme mencoba memberi penawaran yang simpel: baterai panjang umur dalam tubuh yang tidak menyiksa. Kadang, memang itu saja yang di cari pengguna.
