kompas2 — Rupiah loyo lagi. Jumat pagi, 9 Januari 2026, pasar buka, nilai tukar langsung turun.
Awalnya di Rp16.798 per dolar AS. Lalu tergelincir. Sekitar pukul 10 WIB, sudah menyentuh Rp16.829.
Angka-angka itu bikin kepala pelaku pasar langsung tengok ke arah APBN.
Defisit fiskal makin lebar. Bukan cuma sekadar meleset. Pemerintah sebelumnya proyeksi di 2,78 persen dari PDB. Tapi realisasinya tembus 2,92 persen.
Josua Pardede, ekonom dari Permata Bank, bilang, pasar tanggap cepat soal ini. Angka defisitnya bukan main. Dan ternyata lebih parah dari yang di targetkan.
Defisit APBN 2025 di sebut-sebut mencapai Rp695,1 triliun. Ini angka sementara. Tapi sudah bikin banyak pihak waspada.
Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, beberkan data itu jelang akhir tahun lalu. Realisasi sampai Desember naik cukup signifikan dari target awal 2,53 persen.
Hampir mentok. Undang-undang batasi defisit fiskal maksimal tiga persen dari PDB.
Pasar global juga ikut tekan. Di AS, klaim pengangguran memang naik, tapi masih di bawah ekspektasi. Neraca perdagangan? Sedikit membaik. Defisitnya menyempit.
Tapi, ini bukan semata-mata masalah eksternal. Banyak analis bilang pelemahan rupiah sekarang lebih dalam. Ada rasa cemas soal arah fiskal jangka panjang Indonesia.
Investor makin selektif.
Isu fundamental makin di perhatikan.
Dan kalau rupiah terus di serang spekulasi, semua kembali ke kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
Mereka harus tunjukkan sinyal tegas. Kalau tidak, tekanan terhadap rupiah bisa makin deras dalam waktu dekat.
