WASHINGTON — Presiden AS Donald Trump kembali melempar pernyataan yang menyedot perhatian. Kali ini soal kursi panas Ketua Federal Reserve. Ia menyebut dua nama sebagai kandidat kuat—dan seperti biasa, Trump tak ragu menyisipkan pandangannya tentang arah suku bunga yang menurutnya belum turun cukup cepat.
Trump menyinggung Kevin Hassett dan Kevin Warsh dalam sesi tanya jawab dengan media. Keduanya, kata dia, masuk radar utama untuk menggantikan kursi tertinggi di bank sentral AS tersebut. Meski belum ada keputusan final, Trump menyebut prosesnya “sudah dekat”, walau sepertinya masih membuka ruang untuk nama lain masuk ke arena.
Warsh, eks gubernur The Fed, kini bersaing dengan Hassett—yang saat ini memegang posisi sebagai Kepala Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih. “Mereka berdua pintar, punya wawasan. Kita lihat nanti,” ujar Trump sambil tersenyum. Tipikal Trump—pujiannya bisa berarti ya, bisa juga tidak.
Sebelumnya, sempat muncul anggapan bahwa Trump sudah mantap pada satu pilihan. Namun faktanya, pertemuan terbaru dengan Warsh justru menunjukkan bahwa pemilihan masih dalam tahap evaluasi. Apakah Hassett juga akan di panggil? Belum ada konfirmasi.
Di Ruang Oval, Trump sempat bicara blak-blakan soal harapannya. Ia ingin Ketua The Fed yang baru mau “ngobrol” dengannya soal kebijakan suku bunga. Ia berdalih bahwa pengalamannya dalam dunia bisnis dan ekonomi bisa menjadi masukan. Meski begitu, ia menegaskan tidak akan mencampuri keputusan independen bank sentral. Katanya begitu, setidaknya.
Yang menarik, Trump menyebut Warsh sejalan dengannya dalam melihat pentingnya menurunkan biaya pinjaman. “Suku bunga seharusnya sudah di bawah satu persen,” ucapnya.
Di sisi lain, komentar datang dari Jamie Dimon, bos besar JPMorgan Chase. Dalam diskusi tertutup di New York, Dimon bilang bahwa Hassett kemungkinan bakal bergerak cepat memangkas suku bunga. Namun ia juga tidak menafikan kapasitas Warsh sebagai kandidat yang solid. “Keduanya punya arah pemikiran yang mirip,” kata Dimon.
Sementara itu, The Fed sendiri baru saja memangkas suku bunga acuan ke 3,5–3,75 persen. Ini jadi pemotongan ketiga secara berurutan. Tapi, keputusan itu tak bulat. Di internal FOMC, perbedaan sikap cukup terasa.
Trump, seperti biasanya, tak menahan diri. Ia kembali melontarkan kritik terhadap kebijakan moneter yang di anggapnya masih ‘kurang berani’. Dalam masa jabatan keduanya, suara Trump tentang The Fed memang makin lantang. Dan sekarang, dengan pemilihan ketua baru di depan mata, komentarnya jelas bukan sekadar angin lalu.
