kompas2 – Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) bukan cuma soal kurikulum dan sekolah.
Sejumlah anggota DPR melihatnya lebih luas. Termasuk sebagai langkah strategis menjaga budaya.
Bukan hal baru sebenarnya. Tapi di tengah arus modernisasi, urgensinya makin kelihatan.
Pendidikan Bukan Sekadar Ilmu
Menurut beberapa legislator, pendidikan nggak cukup hanya bicara soal pengetahuan.
Ada hal yang lebih dalam. Soal karakter. Soal identitas.
“Generasi muda harus tahu siapa dirinya. Dari mana dia berasal,” kata salah satu anggota Komisi X, di kompleks parlemen, Kamis (2/1).
Budaya Harus Masuk Ruang Kelas
Dalam pembahasan RUU, aspek kebudayaan di sebut ikut di sorot. Penting.
Karena siswa perlu tahu akar sosialnya. Perlu belajar sejarah lokalnya. Bukan cuma hapal nama pahlawan nasional, tapi juga kisah-kisah yang lahir di kampung halamannya.
DPR berharap, ruang itu di buka lebih luas. Agar anak-anak tumbuh dengan rasa bangga. Dan tanggung jawab.
Sekolah Tak Bisa Sendiri
Soal pelestarian budaya, DPR mengingatkan: jangan di bebankan semua ke sekolah.
Keluarga juga ikut. Lingkungan sekitar juga punya peran.
“Kalau cuma berhenti di teori, ya nggak jalan,” ujar anggota lain dari daerah pemilihan Jawa Tengah.
Perlu sinergi. Biar yang di pelajari bisa di praktikkan.
Tantangan Global Masih Ada
Zaman sekarang, budaya asing datang tanpa di undang.
Maka pendidikan berbasis budaya jadi penting. Bisa jadi penyeimbang. Bukan berarti menolak luar, tapi tahu batas.
RUU Sisdiknas, kata DPR, harus bisa jawab kebutuhan itu. Tanpa mengorbankan kemajuan ilmu pengetahuan.
Jangan Lepas Warisan Budaya
Komitmen DPR jelas. Mereka ingin sistem pendidikan punya peran menjaga budaya. Bukan sekadar pengetahuan akademik.
Melalui regulasi yang tepat, nilai budaya bisa di wariskan. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Harapannya: nggak berhenti di atas kertas.
