kompas2.com – Di Nanggung, cerita soal jalan rusak itu bukan kabar baru. Orang-orang sudah terbiasa menghindari lubang, memperlambat kendaraan di titik tertentu, atau sekadar menghela napas tiap kali melintas.
Sudah lama begitu.
Keluhan terus muncul, pelan-pelan lalu makin ramai. Sampai akhirnya nama Dedi Mulyadi ikut di sebut. Responsnya? Ada, tapi tidak meledak-ledak.
Ia bilang, jalan itu memang sudah masuk perhatian. Bahkan bukan sekadar di catat—perbaikannya sudah di masukkan ke anggaran daerah. APBD. Jadi secara administrasi, proyeknya sudah “ada”.
Masalahnya, ya itu tadi. Belum di kerjakan.
Dedi sempat menyinggung soal proses. Bahwa pembangunan tidak bisa lompat-lompat. Harus lewat tahap, harus sesuai mekanisme. Dari perencanaan, penganggaran, sampai pelaksanaan. Semua ada jalurnya. Tidak bisa di percepat seenaknya.
Kedengarannya masuk akal. Tapi di lapangan, ceritanya beda.
Warga tetap harus lewat jalan yang sama setiap hari. Lubang yang sama. Genangan yang sama kalau hujan turun. Aktivitas tetap berjalan, meski kondisinya jauh dari ideal. Mau tidak mau, ya di jalani.
Di situlah letak jaraknya—antara rencana dan kenyataan.
Dedi meminta warga bersabar. Ia menegaskan proyek ini sudah jadi prioritas. Bukan yang di lupakan. Tinggal menunggu waktu pelaksanaan.
Kalimat seperti itu sebenarnya sering terdengar. Dan mungkin memang benar. Tapi buat warga, ukuran “segera” sering kali tidak sama dengan yang tertulis di dokumen.
Karena bagi mereka, jalan itu bukan sekadar proyek.
Itu jalur harian. Jalur hidup.
