Jelang Ramadhan, Pemkot Surabaya Rutin Sidak Bahan Pokok untuk Stabilkan Harga

kompas2.com – Menjelang Ramadhan, suasana pasar di Surabaya memang selalu berubah. Lebih ramai. Lebih riuh. Dan, hampir bisa di tebak, harga-harga mulai bergerak naik. Karena itu, Pemerintah Kota Surabaya tak menunggu lama. Intensitas sidak bahan pokok di tingkatkan.

Bukan sekadar formalitas.

Wali Kota Surabaya memastikan pemantauan di lakukan rutin, berkala, dan langsung ke lapangan. Tim gabungan dari beberapa dinas turun sendiri ke pasar tradisional, juga ke pasar modern. Mereka mengecek satu per satu: harga beras, gula, minyak goreng, daging, telur. Komoditas yang selalu jadi sorotan tiap Ramadhan tiba.

Yang di lihat bukan cuma angka di papan harga. Kualitas barang juga di periksa. Stok di hitung. Ada tidaknya kelangkaan di cek langsung. Pemerintah kota ingin memastikan pasokan aman, distribusi lancar, dan harga tetap masuk akal. Setidaknya tidak melonjak tanpa alasan jelas.

Karena pengalaman menunjukkan, menjelang Ramadhan permintaan memang naik. Orang mulai belanja lebih banyak. Stok dapur di isi. Kebutuhan sahur dan berbuka di perhitungkan. Di momen seperti itu, celah untuk spekulasi harga selalu ada. Dan di situlah sidak di anggap penting—untuk mendeteksi lebih awal jika ada lonjakan tak wajar.

Petugas juga berbicara langsung dengan pedagang dan distributor. Mereka memastikan rantai pasok berjalan sebagaimana mestinya. Kalau ada hambatan distribusi, itu di catat. Kalau ada dugaan penimbunan atau permainan harga, pemerintah menyatakan siap menindaklanjuti sesuai aturan. Tegas, begitu pesan yang ingin di sampaikan.

Langkah ini, kata Pemkot Surabaya, bukan hanya soal angka inflasi atau stabilitas pasar di atas kertas. Ini soal rasa aman masyarakat. Soal memastikan warga bisa memenuhi kebutuhan pokok tanpa waswas harga melonjak tiba-tiba.

Di sisi lain, warga juga di ingatkan untuk belanja secukupnya. Tidak panik. Tidak memborong berlebihan. Karena pada akhirnya, stabilitas pasar bukan hanya urusan pemerintah, tapi juga perilaku konsumsi kita sendiri.

Ramadhan memang selalu membawa dinamika. Pasar bergerak lebih cepat, permintaan meningkat, harga sensitif. Dan setiap tahun, cerita yang sama berulang—pengawasan di perketat agar lonjakan harga bisa di tekan sebelum benar-benar membebani warga.