UNAND Libatkan 400 Mahasiswa untuk Pendataan Rumah Rusak Akibat Bencana di Sumbar

kompas2 – Universitas Andalas turun langsung. Sekitar 400 mahasiswa mereka kirim ke lapangan. Tujuannya satu: mendata rumah-rumah warga yang rusak akibat bencana di Sumatera Barat.

Aksi ini bagian dari dukungan akademik terhadap penanganan bencana. Tapi bukan sekadar simbolik. Mereka benar-benar turun ke lokasi terdampak.

Data dari Lapangan, Bukan dari Kantor

Para mahasiswa di kirim ke sejumlah titik. Ada yang ke perbukitan, ada yang ke kawasan padat pemukiman.

Tugas mereka mendokumentasikan kerusakan—mulai dari yang ringan, sedang, sampai yang parah.

Bukan cuma foto atau angka. Koordinat GPS di catat. Situasi sekitar juga di laporkan.

Pemerintah daerah butuh data ini. Untuk menyusun kebijakan bantuan dan rehabilitasi pascabencana.

Pendataan Akademik, Tapi Praktis

UNAND bilang ini pendekatan akademik, tapi bukan yang rumit-rumit.

Mahasiswa di beri panduan teknis. Cara menilai struktur bangunan, cara validasi data di lapangan.

Semua di lakukan dengan standar. Tapi tetap fleksibel. Karena kondisi di lapangan tak selalu sesuai buku panduan.

Bantu Pemerintah, Belajar Sekaligus

Data yang di kumpulkan akan di gunakan pemda. Buat prioritas bantuan. Buat dasar distribusi dukungan perumahan.

Tapi buat mahasiswa, ini juga pelajaran langsung.

Mereka lihat sendiri seperti apa kondisi warga pascabencana. Bukan dari berita. Tapi dari jalan-jalan becek dan rumah-rumah yang tinggal puing.

Komitmen UNAND di Tengah Krisis

UNAND ingin tetap hadir, bukan hanya di ruang kuliah.

Mereka tekankan pentingnya kolaborasi antara kampus dan pemerintah. Terutama saat bencana datang.

Karena dalam situasi seperti ini, data valid bisa menentukan siapa yang cepat dapat bantuan, siapa yang masih harus menunggu.