Bahlil Nilai Syarat TOEFL LPDP Terlalu Tinggi, Banyak Calon Pendaftar Tersisih Sebelum Bertarung

kompas2 – Di sela sebuah agenda kementerian, Bahlil Lahadalia tiba-tiba melontarkan hal yang selama ini hanya jadi bisik-bisik para pemburu beasiswa. Soal skor TOEFL LPDP yang menurutnya “kelewat tinggi”. Ia tidak menyebut angka spesifik, tapi nadanya jelas: banyak anak muda yang mampu secara akademik justru gugur sebelum sempat di uji hal lain.

Bahlil menggambarkan situasinya begini—ada mahasiswa dari daerah, dari keluarga pas-pasan, pintar betulan, tapi fasilitas belajar bahasa Inggris mereka tidak setara. Di kota besar, kursus ada di tiap blok; di daerah, kadang guru bahasa pun terbatas. Jadi syarat TOEFL yang tinggi itu, menurutnya, bukan lagi soal kualitas, tapi soal siapa yang punya akses.

Pernyataannya langsung memicu pembahasan baru soal LPDP. Program beasiswa yang terkenal ketat itu memang selalu jadi perbincangan, karena di satu sisi terbuka untuk semua, tapi di sisi lain punya standar yang bagi sebagian orang terasa seperti tembok tinggi—bukan pintu.

Bahlil bilang, seleksi itu penting. Tidak ada yang menolak soal kualitas. Yang ia garis bawahi adalah keseimbangan. Bahwa negara mestinya memberi ruang bagi mereka yang pintar, meski belum sempurna di bidang bahasa. “Beri mereka kesempatan untuk mengejar,” kira-kira begitu maksud tersiratnya.

Isu ini bukan barang baru. Para calon pendaftar sudah lama mengeluhkan syarat TOEFL sebagai tahap paling membuat stres, bahkan lebih berat dari seleksi substansi. Mereka yang hidup jauh dari pusat kota mengaku harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mengambil tes. Ada juga yang harus menabung berbulan-bulan untuk sekali ujian.

Bahlil tidak menjanjikan perubahan kebijakan. Ia hanya membuka pintu diskusi yang lebih besar. Tapi pernyataannya sudah cukup untuk membuat para calon pendaftar—yang biasa saling bertukar strategi TOEFL di forum daring—merasa, setidaknya, ada pejabat yang mendengarkan.

Kesimpulan resmi soal perubahan syarat? Belum. Namun, suara keberatan itu kini sudah keluar dari ruang-ruang kelas kecil dan grup Telegram, masuk ke ranah yang lebih formal: ke meja kementerian.