Kebakaran Rumah di Trenggalek, Balon Udara Diduga Jatuh dan Picu Api

kompas2 – Awalnya tak ada yang terasa ganjil. Siang berjalan seperti biasa. Lalu seseorang melihat asap naik pelan dari atap sebuah rumah warga. Bukan asap dapur. Lebih tebal. Lebih gelap.

Rumah itu sedang kosong. Pemiliknya pergi, entah ke mana urusannya. Yang jelas, tidak ada orang di dalam saat api mulai muncul. Warga sekitar yang pertama sadar. Mereka saling panggil, suara panik bercampur bingung. Dalam situasi seperti itu, orang tak sempat berpikir panjang—yang penting api jangan sampai merembet.

Di atas rumah, ada yang sempat melihat benda jatuh sebelumnya. Balon udara, kata beberapa warga. Bukan yang kecil untuk hiasan, tapi balon udara tradisional yang sering di terbangkan tanpa kendali. Dugaan sementara mengarah ke sana. Balon itu di duga jatuh di sekitar bangunan, mungkin masih membawa bara api, lalu menyentuh bagian rumah yang mudah terbakar. Sisanya seperti yang sudah sering terjadi—api cepat mencari jalan.

Petugas pemadam datang tak lama kemudian. Api berhasil di jinakkan sebelum menjalar ke rumah lain. Itu yang paling melegakan. Permukiman di sana cukup padat. Kalau terlambat sedikit saja, bisa beda cerita.

Belum ada kesimpulan resmi soal penyebab kebakaran. Aparat masih menyelidiki, memeriksa titik awal api, mengumpulkan keterangan warga. Dugaan soal balon udara masih sebatas dugaan. Tapi bukan tanpa alasan. Kejadian serupa pernah terjadi di daerah lain, pola ceritanya mirip.

Tidak ada korban jiwa. Itu kabar yang paling penting. Meski begitu, kerugian material di sebut cukup besar. Bagian atap dan sejumlah isi rumah tak terselamatkan.

Peristiwa ini lagi-lagi menyeret soal balon udara liar ke ruang diskusi. Tradisi, hiburan, atau kelalaian? Pertanyaan itu muncul lagi. Aparat setempat mengimbau masyarakat lebih berhati-hati. Benda yang tampak ringan dan melayang bebas itu bisa membawa risiko, apalagi jika jatuh di kawasan padat penduduk.

Kini garis polisi masih terpasang. Sisa kayu hangus dan bau asap belum sepenuhnya hilang. Penyelidikan berjalan, pelan tapi pasti. Warga pun masih membicarakannya—kadang dengan nada heran, kadang dengan nada kesal. Karena pada akhirnya, api tidak datang sendiri. Selalu ada awalnya.