kompas2 – Isu lama itu muncul lagi. Soal ijazah Presiden Joko Widodo. Lagi-lagi beredar, lagi-lagi di perdebatkan. Dan seperti biasa, ruang publik langsung riuh.
Kali ini, Rismon ikut angkat suara. Nadanya bukan sekadar komentar ringan. Ia menyindir pihak-pihak yang kembali menggulirkan tudingan, termasuk Roy Suryo dan sejumlah tokoh lain yang ikut mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi.
Menurut Rismon, polemik semacam ini seharusnya tidak terus di putar seperti kaset lama—apalagi jika tidak di barengi bukti yang jelas. Ia melihat perdebatan yang berulang tanpa dasar kuat hanya membuat publik bingung. Bukan makin terang, justru makin keruh.
“Kalau tidak ada data yang bisa di pertanggungjawabkan, untuk apa terus di angkat?” begitu kira-kira garis besar sikap yang ia sampaikan.
Rismon mengingatkan, isu soal dokumen pribadi—apalagi menyangkut kepala negara—bukan perkara sepele. Ucapan di ruang publik punya konsekuensi. Apalagi di era media sosial, ketika satu potongan pernyataan bisa menyebar lebih cepat daripada klarifikasinya.
Ia menilai, pihak-pihak yang kembali mempersoalkan ijazah Jokowi sebaiknya lebih berhati-hati. Kritik boleh. Pertanyaan boleh. Tapi landasannya harus jelas. Data harus ada. Jangan sekadar asumsi atau tafsir sepihak.
Isu ini sebenarnya bukan barang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, tudingan mengenai keaslian ijazah Jokowi sudah beberapa kali mencuat. Sempat ramai, sempat mereda. Lalu muncul lagi. Polanya hampir sama.
Dan setiap kali itu terjadi, publik kembali terseret dalam perdebatan yang serupa.
Sebagian menganggap isu ini sudah selesai. Sebagian lain merasa masih ada yang perlu di jelaskan. Di tengah tarik-menarik itu, narasi terus bergulir—kadang berdasarkan fakta, kadang bercampur opini.
Rismon menegaskan, diskusi publik seharusnya di bangun di atas data yang bisa di uji. Bukan spekulasi. Bukan juga dugaan yang dilempar tanpa verifikasi. Ia mengingatkan agar polemik semacam ini tidak berubah menjadi perdebatan panjang yang tidak produktif.
Karena pada akhirnya, isu sensitif seperti ini bukan cuma soal benar atau salah. Tapi juga soal dampaknya terhadap kepercayaan publik.
Dan ketika tudingan di lempar tanpa pijakan yang kuat, yang muncul bukan sekadar perdebatan. Bisa jadi ketidakpastian. Bisa juga ketegangan yang sebenarnya tak perlu.
Isu ijazah Jokowi mungkin akan terus muncul dari waktu ke waktu. Tapi seperti yang di sampaikan Rismon, kalau memang ingin membahasnya, bahaslah dengan data. Dengan fakta. Bukan sekadar gema dari isu lama yang di ulang-ulang.
